Formula Reward Tahfizh

Tahfidz Quran, program yang saat ini lagi trend di rumah kami. Sebelumnya memang sudah diprogramkan, namun belum seserius sekarang. Trus pas ada sharing dari seorang temen, yang hafidz 10 juz (woi... bu Riri, tx a lot infonya ya.... ), ternyata yang 7 juz dihafalkan pas SD. Sedangkan sisanya, sejak SMP sampai sekarang sudah ko-as dokter dari UI, 'hanya' berhasil menghafal 3 juz.

Jadi menurut blio, pas SD memang saat yang paling enak untuk menghafal. Hafalan yang didapat pas SD juga masih menempel kuat. Gak kayak yang 3 juz berikutnya, hafalannya gak gitu nempel.

Trus masih sharing dari blio, katanya bisa banyak gitu, cause sama ortunya gak dikasih uang saku kalo gak setor 1 halaman. Meskipun nangis nangis, tetep aja gak bakalan dikasih. Hmmm... interesting. Dan kebetulan, pas temenku itu sharing, Alya juga ada disitu. Jadi dia denger langsung dari pelakunya. Khan beda efeknya kalo udah aku yang nyeritain.

Malemnya, tak ceritain ke suami. Ternyata suami tertarik banget, dan malah langsung diaplikasikan. Langsung bikin pokoke kalo anak2 bisa setor sehari setengah halaman, dapet uang saku sekian. Wah... ternyata susyah banget. Terus bongkar pasang formula buat setoran dech. Sampai akhirnya dapat formula kayak gini :



Jadi, Alya sama Iva kalo berhasil setor 1 baris dapet 500 rupiah. Kalo 2 baris 1.500 rupiah, 3 baris 3 ribu rupiah. Trus 4 baris 5 ribu, dan 5 baris 6.500. Selanjutnya tiap baris dihitung 1.300 rupiah. Kalo sehari gak setor, dapet reward minus seribu, hehehe. Selain reward hafalan, kita juga masih nerapin prestasi. Tapi sekarang gak dikurs ke hadiah lagi, tapi ke uang saku. Tiga prestasi sama dengan 500 rupiah.

Tapi... kayaknya anak2 jadi ngandalin uang saku dari prestasi. Jadi hafalan gak gitu dikejar. Mereka concernnya ke ngejar prestasi. Waduh gawat. Akhirnya poin prestasi kita turunkan nilainya, jadi 1 prestasi = 100 rupiah. Setelah itu lumayan, jadi rada berimbang. Setoran hafalan juga dikejar, tapi prestasi juga jalan.

Trus, setelah sebulanan, Alya sama Iva sudah menyelesaikan satu surat. Tapi ternyata, karena yang disetor hanya yang dihafal hari itu, jadinya ayat2 sebelumnya sudah banyak lupa. Aduh ! Terpaksa formula dibongkar lagi. Akhirnya deal, jadi kalo setor hari itu, musti setor juga murojaah dari ayat 1 surat yang sama. Poin untuk murojaah ini, tiap murojaah setengah halaman, dihitung satu baris.

Bonus juga didapat kalo mereka berhasil mencapai 80.000 dalam 1 bulan, mereka bakal dapet bonus 20.000. Jadi misalnya kalo mereka rutin setor sehari 1 halaman murojaah (setara 2 baris), plus satu baris tambahan hasil menghafal hari itu, berarti ntar akhir bulan mereka bakal dapet uang saku 110 ribu. Lumayan khan...

Reward yang sama berlaku juga untuk abinya, meskikpun jelas tidak diuangkan, tapi lebih ke untuk memotivasi anak2. Ntar akhir bulan, siapa yang berhasil mencapai setengah dari hasil abinya, akan ada reward khusus dari abi. Dan sampai tgl 9 kemaren, inilah hasilnya :


Alya kebetulan paling kecil, karena dia waktu itu sudah mulai sakit, sehingga setornya udah gak bener. Disamping juga karena dia udah juz 28, udah mulai susah.

Gimana umminya ? Yach... kalo Abinya hafalannya kejar2an sama Alya, aku kejar2an sama Iva. Tapi kejar2an juga gak tepat denk. Kayaknya Iva juga bakalan ngeduluin dech. Tapi mereka maklum. Yach, gimana enggak... pas padha ngapal, umminya sibuk ngejagain yang 2 lagi.

Tapi lucunya, dan Alhamdulilllahnya, Uthi sama Widad juga tertarik untuk menghafal. Widad udah hafal Al Fatihah sebagian sebagian. Uthi juga kalo liat kakaknya padha setoran, sering ikut ribut minta setoran hafalannya, hehehe...


(Sumber: http://anugerahfashion.blogspot.com)

Agar Tahfizh Jadi Kebiasaan Alami

Terkadang kebaikan itu harus dipaksakan. Dan sebaik-baik pemaksaan adalah muncul dari dalam diri. Misalnya, hari ini saya terlewat bangun shubuh sehingga program tahfizh pun tertinggal. Besok saya harus bayar Infaq jika tidak bangun lebih awal maka dipersilahkan untuk berjalan kaki pergi ke tempat kerja yang jaraknya 10 Km pada hari berikutnya. Dan itu wajib dibayar.Agar di dalam perjalanan bisa sambil muraja'ah hafalan lama.

Pemaksaan untuk berbuat baik itu akan semakin menjadi baik jika dilakukan dengan melalui proses kesedaran jiwa kita. Berlanjut dengan pertanyaan, "Bagaimana membangun kebaikan pada anak-anak atau pelajar-pelajar kita agar mereka terbiasa melakukan kebiasan baik secara alami? adakah dimulakan dengan paksaan? Berikut yang ingin penulis paparkan;

Pahami Masalah Anak dan Tepiskan Masalah Sendiri
Guru atau Ustadz yang datang ke rumah dari jauh untuk mengajar anak kita, tiba-tiba anak kita tidak mau mengaji atau menghafal Al-Quran. Dan seharusnya anak kita yang datang ke rumah ustadz dan bukan ustadz datang ke rumah kita. Lain halnya jika ustadznya belum punya rumah. Kalu kita ikutkan emosi kita sebagai orang tua, sepertinya anak kita ini 'kurang ajar' dan tidak punya rasa hormat kepada guru. Padahal anak kita baru berumur 4 hingga 6 tahunan. Sebenarnya kita-lah orang tuanya yang bermasalah. iaitu kita kurang memahami 'kondisi' anak. kalau sebabnya sudah jelas, tentu kita bisa men-terapinya. Namun kebiasaan buruk kita sebagai orang tua, inginnya cepat segera masalahnya diselesaikan. Anak terus saja dipaksa untuk mengaji.

Kalau memang anak kita sedang tidak berminat 'tahfizh' hari ini, ya terpaksa kita ikut kemauan anak dengan berusaha memahami 'ego'-nya dan ini sedikit lebih baik dibandingkan kita harus memaksanya. Kita orang tua harus 'mengalah' untuk sementara dan sebenarnya kita sedang merintis 'jalan kemenangan' dalam 'pertarungan emosi' dan dalam menaklukan 'kepentingan pribadi'. Kepentingan pribadi berupa keinginan agar anak-anaknya cepat bisa baca Al-Quran, hafal Al-Quran dan khatam 30 juz.

Lucunya kebanyakan kita punya prinsip 'jangan turuti semua kemauan anak' tapi pada saat yang sama kalau kita hitung-hitung betapa lebih banyak kita 'turuti' kemauan anak. Buktinya, setiap pagi kita ikut anak pergi ke sekolah dan jemput di waktu kepulangannya dari sekolah. Bukankah ini namanya 'orang tua ikut anak'? Kalau kita merasa punya pembantu, ternyata itu lebih dahsyat lagi kita 'menuruti kemauan anak'. Ini istilah yang boleh dinafikan namun tidak bisa kita hindarkan.

Sebenarnya kita punya 'bahasa' untuk 'menuruti semua kemauan anak'. Kita 'turuti' kemauan anak dengan setting yang 'unik'. Semakin kita banyak 'menuruti kemauan anak, semakin kita merekayasa mereka untuk melakukan satu, dua dan banyak kebiasaan baik. Salah satunya kita setting 'kemauan' anak dengan diarahkan kepada program 'tahfizh'

Kebiasaan Harian dan Kebiasaan Tahfizh
Sebelum tidur, kita usahakan selalu menemani anak. Buat jadwal secara bergilir antara suami dan isteri agar bisa membacakan surah-surah pendek atau ayat-ayat pilihan di samping anak saat menjelang mata terpejam. Begitu juga saat bangun dari tidur di pagi hari. Di dalam perjalanan ke sekolah pun kita biasakan hal itu. Ingat, kita sendiri yang melakukannya; membaca, menghafal dan mengulang-ulang hafalan di sisi anak-anak kita. Sehingga kebiasaan baik kita itu menular menjadi kebisaan 'tahfizh' pada diri anak.

Bersambung....

(sumber: Quranuna.multiply.com)

Cara Praktis Hafal Al-Qur'an dalam 1 Tahun

Segala puji Bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad SAW. Dalam tulisan ini akan kami kemukakan cara termudah untuk menghafalkan al quran. Keistimewaan teori ini adalah kuatnya hafalan yang akan diperoleh seseorang disertai cepatnya waktu yang ditempuh untuk mengkhatamkan al-Quran. Teori ini sangat mudah untuk di praktekan dan insya Allah akan sangat membantu bagi siapa saja yang ingin menghafalnya. Disini akan kami bawakan contoh praktis dalam mempraktekannya:
Misalnya saja jika anda ingin menghafalkan surat an-nisa, maka anda bisa mengikuti teori berikut ini:
1- Bacalah ayat pertama 21 kali
2- Bacalah ayat kedua 21 kali
3- Bacalah ayat ketiga 21 kali
4- Bacalah ayat keempat 21 kali
5- Kemudian membaca 4 ayat diatas dari awal hingga akhir menggabungkannya sebanyak 20 kali.
6- Bacalah ayat kelima 20 kali
7- Bacalah ayat keenam 21 kali
8- Bacalah ayat ketujuh 21 kali
9- Bacalah ayat kedelapan 21 kali
10- Kemudian membaca ayat ke 5 hingga ayat ke 8 untuk menggabungkannya sebanyak 21 kali.
11- Bacalah ayat ke 1 hingga ayat ke 8 sebanyak 21 kali untuk memantapkan hafalannya.
Demikian seterusnya hingga selesai seluruh al Quran, dan jangan sampai menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, agar tidak berat bagi anda untuk mengulang dan menjaganya.
- BAGAIMANA CARA MENAMBAH HAFALAN PADA HARI BERIKUTNYA?
Jika anda ingin menambah hafalan baru pada hari berikutnya, maka sebelum menambah dengan hafalan baru, maka anda harus membaca hafalan lama dari ayat pertama hingga terakhir sebanyak 21 kali juga hal ini supaya hafalan tersebut kokoh dan kuat dalam ingatan anda, kemudian anda memulai hafalan baru dengan cara yang sama seperti yang anda lakukan ketika menghafal ayat-ayat sebelumnya.
- BAGIMANA CARA MENGGABUNG ANTARA MENGULANG (MURAJA'AH) DAN MENAMBAH HAFALAN BARU?
Jangan sekali-kali anda menambah hafalan tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya, karena jika anda menghafal al quran terus-menerus tanpa mengulangnya terlebih dahulu hingga bisa menyelesaikan semua al quran, kemudian anda ingin mengulangnya dari awal niscaya hal itu akan terasa berat sekali, karena secara tidak disadari anda akan banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal dan seolah-olah menghafal dari nol, oleh karena itu cara yang paling baik dalam meghafal al quran adalah dengan mengumpulkan antara murajaah (mengulang) dan menambah hafalan baru. Anda bisa membagi seluruh mushaf menjadi tiga bagian, setiap 10 juz menjadi satu bagian, jika anda dalam sehari menghafal satu halaman maka ulangilah dalam sehari empat halaman yang telah dihafal sebelumnya hingga anda dapat menyelesaikan sepuluh juz, jika anda telah menyelesaikan sepuluh juz maka berhentilah selama satu bulan penuh untuk mengulang yang telah dihafal dengan cara setiap hari anda mengulang sebanyak delapan halaman.
Setelah satu bulan anda mengulang hafalan, anda mulai kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, dan mengulang setiap harinya 8 halaman sehingga anda bisa menyelesaikan 20 juz, jika anda telah menghafal 20 juz maka berhentilah menghafal selama 2 bulan untuk mengulang, setiap hari anda harus mengulang 8 halaman, jika sudah mengulang selama dua bulan, maka mulailah enghafal kembali setiap harinya satu atau dua halaman tergantung kemampuan dan setiap harinya mengulang apa yang telah dihafal sebanyak 8 lembar, hingga anda bisa menyelesaikan seluruh al-qur an.
Jika anda telah menyelesaikan 30 juz, ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan setiap harinya setengah juz, kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya juga setiap harinya diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama, kemudian pindahlah untuk mengulang sepuluh juz terakhir dengan cara yang hampir sama, yaitu setiapharinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.
- BAGAIMANA CARA MENGULANG AL-QURAN (30 JUZ) SETELAH MENYELESAIKAN MURAJAAH DIATAS?
Mulailah mengulang al-qur an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulangnya 3 kali dalam sehari, dengan demikian maka anda akan bisa mengkhatamkan al-Quran setiap dua minggu sekali.
Dengan cara ini maka dalam jangka satu tahun insya Allah anda telah mutqin (kokoh) dalam menghafal al qur an, dan lakukanlah cara ini selama satu tahun.
- APA YANG DILAKUKAN SETELAH MENGHAFAL AL QUR AN SELAMA SATU TAHUN?
Setelah menguasai hafalan dan mengulangnya dengan itqan (mantap) selama satu tahun, jadikanlah al qur an sebagai wirid harian anda hingga akhir hayat, karena itulah yang dilakukan oleh Nabi r semasa hidupnya, beliau membagi al qur an menjadi tujuh bagian dan setiap harinya beliau mengulang setiap bagian tersebut, sehingga beliau mengkhatamkan al-quran setiap 7 hari sekali.
Aus bin Huzaifah rahimahullah; aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah bagiamana cara mereka membagi al qur an untuk dijadikan wirid harian? Mereka menjawab: "kami kelompokan menjadi 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, dan wirid mufashal dari surat qaaf hingga khatam ( al Qur an)". (HR. Ahmad).
Jadi mereka membagi wiridnya sebagai berikut:
- Hari pertama: membaca surat "al fatihah" hingga akhir surat "an-nisa",
- Hari kedua: dari surat "al maidah" hingga akhir surat "at-taubah",
- Hari ketiga: dari surat "yunus" hingga akhir surat "an-nahl",
- Hari keempat: dari surat "al isra" hingga akhir surat "al furqan",
- Hari kelima: dari surat "asy syu'ara" hingga akhir surat "yaasin",
- Hari keenam: dari surat "ash-shafat" hingga akhir surat "al hujurat",
- Hari ketujuh: dari surat "qaaf" hingga akhir surat "an-naas".
Para ulama menyingkat wirid nabi dengan al-Qur an menjadi kata: " Fami bisyauqin ( فمي بشوق ) ", dari masing-masing huruf tersebut menjadi symbol dari surat yang dijadikan wirid Nabi pada setiap harinya maka:
- huruf "fa" symbol dari surat "al fatihah", sebagai awal wirid beliau hari pertama,
- huruf "mim" symbol dari surat "al maidah", sebagai awal wirid beliau hari kedua,
- huruf "ya" symbol dari surat "yunus", sebagai wirid beliau hari ketiga,
- huruf "ba" symbol dari surat "bani israil (nama lain dari surat al isra)", sebagai wirid beliau hari keempat,
- huruf "syin" symbol dari surat "asy syu'ara", sebagai awal wirid beliau hari kelima,
- huruf "wau" symbol dari surat "wa shafaat", sebagai awal wirid beliau hari keenam,
- huruf "qaaf" symbol dari surat "qaaf", sebagai awal wirid beliau hari ketujuh hingga akhir surat "an-nas".
Adapun pembagian hizib yang ada pada al-qur an sekarang ini tidak lain adalah buatan Hajjaj bin Yusuf.
- BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BACAAN YANG MUTASYABIH (MIRIP) DALAM AL-QUR AN?
Cara terbaik untuk membedakan antara bacaan yang hampir sama (mutasyabih) adalah dengan cara membuka mushaf lalu bandingkan antara kedua ayat tersebut dan cermatilah perbedaan antara keduanya, kemudian buatlah tanda yang bisa untuk membedakan antara keduanya, dan ketika anda melakukan murajaah hafalan perhatikan perbedaan tersebut dan ulangilah secara terus menerus sehingga anda bisa mengingatnya dengan baik dan hafalan anda menjadi kuat (mutqin).
- KAIDAH DAN KETENTUAN MENGHAFAL:
1- Anda harus menghafal melalui seorang guru atau syekh yang bisa membenarkan bacaan anda jika salah.
2- Hafalkanlah setiap hari sebanyak 2 halaman, 1 halaman setelah subuh dan 1 halaman setelah ashar atau maghrib, dengan cara ini insya Allah anda akan bisa menghafal al-qur an secara mutqin dalam kurun waktu satu tahun, akan tetapi jika anda memperbanyak kapasitas hafalan setiap harinya maka anda akan sulit untuk menjaga dan memantapkannya, sehingga hafalan anda akan menjadi lemah dan banyak yang dilupakan.
3- Dalam menghafal hendaknya menggunakan satu mushaf tertentu baik dalam cetakan maupun bentuknya, hal itu agar lebih mudah untuk menguatkan hafalan dan agar lebih mudah mengingat setiap ayatnya serta permulaan dan akhir setiap halamannya.
4- Setiap yang menghafalkan al-quran pada 2 tahun pertama biasanya akan mudah hilang apa yang telah ia hafalkan, masa ini disebut masa "tajmi'" (pengumpulan hafalan), maka jangan bersedih karena sulitnya mengulang atau banyak kelirunya dalam hafalan, ini merupakan masa cobaan bagi para penghafal al-qur an, dan ini adalah masa yang rentan dan bisa menjadi pintu syetan untuk menggoda dan berusaha untuk menghentikan dari menghafal, maka jangan pedulikan godaannya dan teruslah menghafal, karena meghafal al-quran merupakan harta yang sangat berharga dan tidak tidak diberikan kecuali kepada orag yang dikaruniai Allah swt, akhirnya kita memohon kepada-Nya agar termasuk menjadi hamba-hamba-Nya yang diberi taufiq untuk menghafal dan mengamalkan kitabNya dan mengikuti sunnah nabi-Nya dalam kehidupan yang fana ini. Amin ya rabal 'alamin.

Pentingnya Menghafal dan Memahami Al Quran

Al Quran diturunkan kepada Muhammad Rasulullah SAW selama 23 tahun masa kerasulan beliau. Al Quran di turunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW dengan perantaraan malaikat Jibril. Malaikat Jibril menurunkan Al Quran ke dalam hati Rasulullah dan beliaupun langsung memahaminya. Hal ini disebutkan dalam Al Quran surat Al Baqarah (2) : 97.

qs-2-97.gif

Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Kemudian Rasulullah SAW mengajarkan Al Quran itu kepada para shahabatnya. Mereka menuliskannya di pelepah daun daun kering, batu, tulang dll. Pada saat itu belum ada kertas seperti zaman modern sekarang ini. Kemudian para shahabat langsung menghafalnya dan mengamalkannya. Demkian Al Qur;an di ajarkan kepada para shahabat-shahabat yang lain. Al Quran difahami dengan menghafal. Bukan dengan sekedar membaca.

Pada saat Rasulullah telah wafat, banyak terjadi peperangan. Dalam peperangan Yamamah misalnya , banyak para sahabat pemghafal Quran yang syahid. Melihat kondisi ini Umarpun meminta Abu bakar sebagai khalifah untuk membuat Mushaf Al Quran. Abu bakar sempat menolak. „ Apakah engkau meminta aku untuk melakukan apa yang Rasulullah tidak lakukan ?“ ujar beliau. Tapi dengan gigih Umar bin Khattab menjelaskan urgensinya pembuatan Mushaf bagi kepentingan kaum muslimin di masa yang datang. Akhirnya Abu Bakarpun dapat diyakinkan dan kemudian setuju dengan ide Umar bin Khattab.

Abu Bakarpun lalu meminta Zaid bin Haritsah untuk melakukan tugas ini. Zaid bin Haritsah pun sempat berkata : „ Apakah engkau meminta aku untuk melakukan apa yang Rasulullah tidak lakukan ?“. Tapi akhirnya Zaidpun setuju dan mulai mengumpulkan shahifah-sahhifah yang tersebar di tangan para shahabat yang lain. Batu, daun-daun kering, tulang dll itupun disimpan di rumah Hafsah.

Barulah pada zaman Khalifah Utsman bin Affan, Mushaf Al Quran selesai sebanyak 5 buah. Satu disimpan Utsman dan 4 yang lain disebar ke : Makkah, Syria, Basrah dan Kufah. Jadi pada saat itu para shahabat, tabi’it dan thabi’i tabiin mempelajari al Quran dengan menghafal karena jumlah Mushaf yang sangat sedikit.

Bagaimana dengan kondisi zaman sekarang? Bila kita perhatikan di sekitar kita, diantara teman-teman dan keluarga kita, ada berapa persen diantara mereka yang hafal Al Quran ? Berapa persen yang sedang menghafal Al Quran? Mungkin kita susah memberikan persentase karena dihitung dengan jari-jari tangan kita belum tentu genap semuanya.

Kaum muslimin saat ini masih cukup berpuas diri dengan membaca Mushaf Al Quran dan tidak memahami maknanya. Padahal membaca Al Quran baru langkah awal interaksi Al Quran. Al Quran sebagai petunjuk bagi kita tidak cukup dibaca tapi juga dihafal dan difahami.

Mungkin ada sebagian yang berkata mengapa perlu menghafal ? Tidakkah cukup dengan membaca Mushaf dan membaca tarjemahan ? Ternyata tidak cukup. Dengan menghafal Al Quran ada „rasa“ (atau zauk) yang diberikan Allah kepada hati kita. Rasa ini didapat karena ayat-ayat yang dibaca berulang-ulang. Pengulangan kalam-kalam suci itulah yang menjadi „makanan“ untuk hati. Dan sesuai dengan ayat di Al Baqarah : 97 diatas, Al Quran itu diturunkan di hati Nabi Muhammad. Bukan di akal fikiran beliau. Artinya Al Quran itu konsumsi/makanan hati bukan sekedar fikiran.

Rasa inilah yang menjadikan kita nikmat mengenal Allah, memahami kehendakNya dan ringan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. „ Rasa „ ini kurang ada juga sedikit ketika kita hanya membaca. Apalagi bila membacanya tidak diiringi dengan pemahaman artinya. Dan membaca tidak diulang-ulang. Efeknya sangat berbeda dengan mengulang-ulangnya.

Kaum muslimin saat ini cukup berpuas diri dengan membaca „buta“ Al Quran dan menimba ilmu dari para ustadz, kiai dan pemuka-pemuka agama. Tanpa menghilangkan rasa hormat kepada para penyampai-penyampai risalah agama, kita sebagai hamba Allah, secara individual juga mempunyai kewajiban berusaha memahami Al Quran dari aslinya langsung dari firman-firmanNya.

Bila kita menghafal dan mentadaburi Al Quran maka Allah akan mengajarkan kepada kita pengetahuan melalui hati kita dengan perantaraan ilham. Seperti yang difirmankan Allah SWT dalam surat Asy Syams ayat 8-10:

qs-91-8-10.gif“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.“

Ilham ini dapat dirasakan dengan dalam hati kita. Bukankah kita pernah bingung tentang suatu masalah, kemudian pada suatu saat kita, „cling“ mememukan cara untuk menyelesaikan masalah dengan baik. Itulah ilham.

Atau ilham itu sebagai furqan atau pembeda mana-mana amal yang haq dan mana-man yang bathil. Sebagai misal ketika kita masuk ke tempat maksiat maka hati kita akan terasa tidak enak, tidak nyaman. Itulah peringatan dari hati kita yang bersih. Furqan inilah yang dibutuhkan di dalam kehidupan ketika berperang dengan bisikan-bisikan syaithan yang membujuk-bujuk kita untuk berbuat maksiat dengan iming-iming duniawi yang menggiurkan. Karena itu sangatlah kita memerlukan furqan yang menjadikan kita mantap mengetahui yang haq dan yang bathil. Seperti disebutkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam surat Al Anfaal ayat 29:

qs-8-29.gif

Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Al Quran juga sebuah petunjuk/pedoman hidup bagi kita kaum muslimin :

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.
(QS Al Baqarah : 2)

Jadi intinya Al Qu’an adalah pedoman hidup. Tapi hanya segelintir orang yang hafal dan faham Al Quran. Bagaimana Al Quran bisa menjadi pedoman hidup seorang muslim secara individual bila membaca dan memahaminya secara tuntas saja belum dilakukan ? Dan banyak diantara kaum muslimin yang meninggal dalam keadaan belum pernah membaca dengan tuntas Al Quran.

Bayangkan apabila kita akan pergi ke puncak Gunung Semeru. Sebelum pergi kita dibekali dengan peta, rambu-rambu dan petunjuk-petunjuk oleh seorang pendaki gunung profesional. Tetapi kita tidak memahami petunjuk-petunjuk tersebut. Apakah kita dijamin akan sampai di puncak gunung semeru dengan selamat ? Kita mungkin lebih senang bertanya dengan penduduk setempat. Bila kita bertemu dengan penduduk yang sangat kenal gunung semeru mungkin kita akan sampai dengan selamat. Tetapi bila orang kita tanya juga kurang faham jalan ke puncak gunung, akankah kita sampai ke puncak dengan selamat atau mungkin kita bisa tersesat ? Padahal bila kita memahami, petunjuk, peta dan juga bertanya maka kita akan mendapat jalan pintas untuk sampai ke puncak gunung.

Memang solusi pemahaman Al Quran ini tidak akan dapat berhasil bila sistem pendidikan agama tidak berjalan intensif sejak dini. Sebagai permisalan, bahasa Inggris diajarkan sejak SD. Maka kita lihat ketika lulus SMA para mahasiswa sudah bisa belajat dari diktat berbahas Inggris. Bila sistem ini diterpakan juga untuk bahasa Arab (sebagai media inti pemahaman Al Quran) maka ketika berumur 20-25 seorang muslim sudah mulai bisa memahami Al Quran dengan mandiri.

Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin, memahami Al Quran bukan fardhu kifayah yang dibebankan kepada ulama, kiai atau ustadz. Tapi seperti dicontohkan oleh para sahabat, membaca, menghafal, memahami dan melaksanakan Al Quran dilakukan sebagai kewajiban indivial setiap kaum muslimin. Bila secara individu seorang muslim meningkat kualitasnya, keluarga yang dibinanya juga akan berkulaitas sehingga akhirnya sebuah masyarakat madani yang dirindukan selama ini juga dapat terwujud.

Demikianlah renungan kita tentang Al Quran. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayahNya kepada kita semua sehingga kita menjadi orang-orang yang mencintai Al Quran, membacanya, menghafalkannya, memahaminya dan mengamalkannya.

Wallahu alam bi shawab

Ummu Alya

(sumber: http://kultum.wordpress.com)